Monday, November 1, 2010

Merenungi Bencana 10/2010

Banyak alasan orang tidak membawa payung atau mantel hujan sebelum
hujan. Ada yang memang tidak punya, ada yang dipinjam temannya, ada
yang memang malas. Akibatnya kehujananlah mereka.

Bagi saya, apapun alasan ataupun penyebabnya tidak begitu penting,
yang penting sekarang ada orang kehujanan apa yang perlu kita lakukan
untuknya ? Pertanyaan cukup itu untuk dijawab sendiri.

Sebenarnya, masalah yang ingin dibicarakan adalah bagaimana masyarakat
Indonesia mengerti dan sadar, bahwa lingkungannya mempunyai potensi
bencana, hingga memiliki kemampuan menghadapi bencana.

Oktober 2010, salah seorang yang memiliki sebutan WAKIL RAKYAT
mengungkapkan kalimat yang menyalahkan rakyat yang diwakilinya. Beliau
menyebutkan bahwa terkena bencana itu karena salah yang tinggal di
situ, ngapain juga tinggal di situ. Lha kalau memang begitu, jangan
mengeluh tinggal di Jakarta yang macet dan banjir. Jangan digusur dong
orang-orang yang mencari tempat baru dan memilih tinggal di Jakarta.

Ada juga yang mengambil hikmah dari banyaknya bencana ini dengan
menjadi orang suci. Memandang bahwa ini adalah hukuman karena kita
terlalu banyak melakukan kejahatan, nista, homoseksual, korupsi,
kolusi dan kejahatan lain.

Tapi kembali, pembicaraan mengenai hal itu tak banyak mengubah
keadaan, tak ada juga perbaikan sikap mental menghadapi bencana.
Okelah saya setuju jika hal itu dikaitkan dengan bencana alam akibat
ulah manusia. Bisa jadi memang tanah longsor dan banjir itu akibat
destructive logging ( gak peduli tu legal pa ilegal). Seperti juga
keluarnya lumpur di Sidoarjo, setuju jika itu diakibatkan oleh
dosa-dosa manusia.

Kalau menurut saya sendiri, apakah kalian orang berdosa atau merasa
berdosa, atau pun orang suci, atau orang yang merasa suci, bahkan
orang biasa sekalipun, mengertilah dan sadarlah bahwa sewaktu-waktu
bencana itu bisa mendatangi rumah-rumah kita.

Persiapkan segala sesuatunya untuk menyelamatkan diri, belajar
menghadapi gempa, banjir, tanah longsor dan tsunami. Kembali pada
pepatah sedia payung sebelum hujan, kita manusia perlu mempersiapkan
diri dengan hujan yang datang sewaktu-waktu. Membawa payung atau
tidak, punya payung atau tidak, mari kita siap sedia menghadapinya.
Artinya, punya fasilitas atau tidak berusahalah untuk menyelamatkan
diri, menghadapi segala kondisi.

Caranya bagaimana ? Googling aja, banyak kok tips menghadapi gunung
api, gempa bumi, tsunami, angin puting beliung dan bencana lain.

Oke...ngelantur dikit gpplah.

No comments:

Post a Comment